Search

Perjalanan Hidup dengan Keluarga Disfungsional

By: Melissa Yunita


Aku dulu pernah percaya bahwa kehidupan setiap anak itu menyenangkan, karena yang mereka pikirkan hanyalah sekolah dan bermain. Tapi ketika dibandingkan dengan kehidupan masa kecil aku, kok aku tidak hanya memikirkan mengenai PR ataupun bermain ya? AKu harus memikirkan bagaimana caranya agar kedua orang tua aku tidak lagi bertengkar, ayah aku tidak lagi melakukan kekerasan fisik terhadap ibuku, dan aku tidak lagi harus mengungsi ke rumah saudara agar terhindar dari kekerasan yang terjadi. Semua itu bermula sejak aku masih kecil. Bertumbuh dengan suasana yang ricuh merupakan kehidupan keseharianku. Dari yang awalnya menangis melihat ibu aku tersakiti, kemudian muak melihat tampang ayah sampai akhirnya aku benar-benar berharap dia akan hilang dari muka bumi ini. Saat itu yang bisa aku lakukan adalah menjadi kuat untuk ibuku, menjadi sandaran ketika dia menangis tersakiti, dan terkadang menjadi tampeng agar ayahku tidak melakukan kekerasan terhadap Ibuku. Akhir pekan adalah waktu yang sangat aku tidak dinanti-nantikan… Kami punya kebiasaan untuk makan diluar bersama, dan disitulah biasanya malapetaka terjadi, dan yang kami bisa lakukan sebagai anak-anak hanyalah menahan rasa amarah kepada ayah dan malu karena selalu menjadi pusat perhatian. Begitulah kiranya setiap akhir pekanku selama bertahun-tahun. Keadaan rumah teruslah seperti itu semanjak aku berumur 3 tahun hingga aku kelas 4 SD, sampai akhirnya kedua orang tuaku memutuskan untuk berpisah. Aku sangat bahagia ketika mendengar kabar itu… bisa bayangin ngga anak SD kelas 4 bahagia loh orang tuanya berpisah! Semua orang berpikir bahwa aku dan kembaranku akan sedih mendengarnya, sampai-sampai aku dibawa ke psikolog agar memastikan kami berdua tidak apa-apa. Aku inget banget waktu itu bilang ke psikolognya, “Kalau memang itu yang harus dijalankan agar mama nggak tersakiti lagi, aku bahagia orang tua aku berpisah” dan aku inget banget muka psikologya sangat kaget ketika kami berdua berkata seperti itu.







Aku pikir setelah pisahnya kedua orangtuaku, maka masalah akan selesai. Tidak secepat itu ferguso, hahaha. Ternyata apa yang terjadi terhadapku sejak aku kecil menimbulkan trauma yang cukup dalam. Trauma yang memerlukan banyak waktu untuk meminimalisir dampaknya. Hubungan aku dengan ayah tidak pernah baik, aku selalu di anak tirikan karena aku terlalu mirip dengan ibu. Ketika ada keadaan dimana aku harus dipersatukan dengan ayah, maka situasi akan most likely berubah menjadi bencana; entah terjadi pertikaian hebat ataupun perang dingin. Aku bertumbuh besar membenci ayahku sendiri, dan hal tersebut bukanlah hal yang mudah untuk dilalui terutama karena aku harus mengalaminya semenjak dini. Aku nggak pernah percaya sama laki-laki, selalu skeptis dengan yang namanya cinta, dan selalu berpikir bahwa jalan apapun yang aku ambil, aku akan end-up sendiri. Nah, perjalanan ini aku lalui puluhan tahun, sampai akhirnya ayah aku jatuh sakit dan akulah yang harus merawat beliau. Bisa banyangin nggak, aku harus ngerawat orang yang paling aku benci di dunia ini? Mengorbankan masa mudaku yang seharusnya bisa dipakai untuk mengeksplor dunia dan beribu kesempatan, hanya untuk merawat orang yang dulu merusak masa kecil aku. Gila sih, itu rasanya seperti aku benar-benar dijatuhkan ke lubang terdalam dan tidak ada satu orang pun yang bisa membantu. Kuliah aku sempat berantakan karena aku harus ngurus ayah, bolak balik ke rumah sakit, ngurusin administrasi, belum lagi ga boleh ninggalin dia dirumah sendirian. Aku cuma punya temen kuliah sedikit, karena nggak punya waktu untuk nongkrong. 1-2 tahun pertama aku kuliah sangat sulit rasanya.


Puluhan tahun aku terus berada di dalam lingkaran kebencian yang tidak ada hentinya, capek rasanya harus membenci orang terus menerus, terutama ketika orang tersebut adalah orang tua sendiri. Akhirnya aku memberanikan diri untuk membuka opsi forgiveness yang sebelumnya selalu aku tolak ketika masalah ini hadir. Aku terus berpikir, gimana caranya aku bisa memaafkan orang yang selama hidupku isinya hanya menyakiti aku? Setelah beberapa kali sesi dengan psikolog, aku mulai melihat titik cerah. Aku inget banget waktu itu pertanyaan yang mengubah cara pandang aku adalah “kalau kamu diposisi ayah kamu, apakah kamu akan mengenal yang namanya cinta?” Tertegun dengan pertanyaan itu, aku mengulas kembali kehidupan ayah dan disitu aku ketemu jawabannya. Ayah aku tumbuh besar di keluarga disfungsional, tidak memiliki ibu dari dia umur 2 tahun, memiliki ayah yang abusive secara verbal dan fisik. Aku rasa bertumbuh di dalam keluarga seperti itu, tidak akan bisa mengerti apa artinya kasih sayang, cinta, dan perhatian, sehingga mungkin sulit bagi ayah untuk mengekspresikan cinta kepada anak-anaknya. Tentu apa yang ayah lakukan kepada kami anak-anaknya tidak bisa dibenarkan, apa yang dia lakukan tetap salah, tapi pada akhirnya dan untuk pertama kalinya aku mengerti kenapa dia melakukan hal itu. Berbekal dengan pengertian yang lebih dalam tentang ayah dan juga batasan-batasan yang aku miliki untuk melindungi diri, untuk pertama kalinya aku stand up for myself di depan ayah. Walaupun pada akhirnya tetap sulit bagi ayah untuk mengerti dan memperlakukan aku selayaknya. Tapi, setidaknya aku sudah berani untuk bertindak dan melindungi diri aku sendiri, karena kalau bukan aku, siapa lagi?









Hubungan dengan anggota keluarga memang akan terasa lebih sulit untuk dihadapi, dan itu tidak apa-apa, karena keluarga seharusnya menjadi tempat teraman dan ternyaman untuk kita pulang, namun justru malah menjadi sumber masalah yang mendalam. Akan sulit dan terasa sangat mengerikan untuk kita menerima kenyataan bahwa kita tidak memiliki rumah untuk pulang, tapi yang aku pelajari dalam perjalanan hubungan aku dengan ayah adalah bahwa kita bisa membuat rumah di dalam diri kita sendiri, sesuai dengan yang kita butuhkan dan kita mau, rumah yang akan selalu berada di samping kita, rumah yang akan menjadi tempat paling hangat untuk kita pulang.


10 views0 comments